Selasa, 02 Februari 2016

Pembangunan subsektor peternakan mengemban satu fungsi yang sangat penting dalam pembangunan nasional, yaitu fungsi untuk penyediaan bahan pangan hewaniyang berkualitas berupa daging, telur dan susu. Upaya-upaya untuk meningkatkan produksi peternakan merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi bangsa ini karena saat ini tingkat pencapaian konsumsi masyarakat indonesia terhadap protein hewani asal ternak masih rendah baru mencapai 5,03 gram/kapita/hari. Tingkat pencapaian ini masih di bawah standar kebutuhan yang dikemukakan Widyakarya Pangan dan Gizi VI (1998) yang menyarankan untuk masyarakat Indonesia mengkonsumsi protein hewani asal ternak 6 gram/kapita/hari atau setara dengan daging 10,3 kg, telur 6,5 kg dan susu 7,2 kg/kapita/tahun. Bahkan pencapaian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat pencapaian beberapa negara di kawasan Asia Tenggara dan negara maju lainnya di dunia. Sebagai contoh tingkat pencapaian konsumsi di Malaysia sebesar 28,4 gram/kapita/hari dan Amerika Serikat telah mencapai 73,5 gram/kapita/hari. Sementara WHO menyarankan konsumsi protein hewani asal ternak sebesar 26 gram/kapita/hari.
Peternakan unggas di Indonesia memiliki peranan penting dalam pembangunan peternakan, karena merupakan ujung tombak dalam pemenuhan kebutuhan pangan hewani. Saat ini ternak unggas memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi daging yaitu 60,73%. Peran sentral yang diemban oleh peternakan unggas harus diimbangi dengan kemauan dan kemampuan para pembudidaya ternak unggas dalam peningkatan produksi.  Unggas merupakan jenis hewan bertulang belakang ( chordata ) masuk dalam kelas aves (bersayap) yang telah mengalami domestikasi (diternak) untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti daging dan telur. Unggas masuk dalam ordo anseriformes ( entok, angsa, itik, dan undan), serta galliformes ( puyuh, kalkun, ayam).
Salah satu jenis ternak unggas yang memiliki prospek yang cukup bagus dikembangkan di masyarakat pedesaan, daerah tertinggal dan transmigrasi adalah ternak itik. Ternak itik memiliki kemampuan dalam beradaptasi yang sangat baik di lingkungan yang marginal sekalipun, hal ini bisa dilihat dari kemampuan itik dalam mencari pakan secara mandiri dalam pemeliharaan sistem pangonan. Kelebihan tersebut didukung dengan permintaan pasar yang sangat tinggi pada produk itik, membuat itik sangat prospektif sekali dikembangkan.
 Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka Balai Besar Latihan Masyarakat Yogyakarta memandang perlu untuk meningkatan pengetahuan dan ketrampilan bagi Penggerak Swadaya Masyarakat dalam bidang budidaya itik dan pembuatan pakannya melalui pelaksanaan kursus pada tahun 2016 ini di Kelompok Ternak Bina Mandiri Dusun Kalangan Desa Ambartawang Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelan. Beberapa materi yang telah dikuasai oleh teman-teman PSM antara lain :

a. Pengenalan ciri atau identifikasi anak itik umur sehari (DOD) dalam hal jenis kelamin, bibit unggul dan sehat
b. Pengenalan ciri ternak itik yang baik untuk dijadikan petelur dan indukan
c. Identifikasi Organoleptik ciri telur fertil dan infertil
d. Mampu melaksanakan SOP Persiapan mesin tetas  
e. Mampu melaksanakan SOP Penetasan telur
f.  Mampu melakukan candling dengan akurat
g. Mampu melakukan vaksinasi dan pengendalian hama dan penyakit
h.  Mampu melakukan formulasi ransum pakan itik sesuai tahapan pemeliharaan
i.   Mampu melakukan SOP pemeliharaan itik
j.   Mampu melakukan kegiatan pengolahan produk berupa pembuatan telur asin


Berikut ini beberapa dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan oleh Sdr. Agung Cahyo Prabowo, SE.,MM. dan Sdr. Bayu Kristianto, S.Pt. pada tanggal 25 sampai dengan  29 Januari  2016 :



















0 komentar:

Posting Komentar